Di bawah langit Januari yang menaungi bumi perkemahan, suasana di MI dan MTs Taawanul Muslimin tampak berbeda dari biasanya. Tepat pada tanggal 31 Januari 2026, bertepatan dengan momentum sakral Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama, ratusan tunas muda berkumpul dalam balutan seragam cokelat pramuka.
Kegiatan PERSAMI ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan sebuah kawah candradimuka untuk menempa jiwa-jiwa santri menjadi pribadi yang tangguh.
1. Menanamkan Kemandirian dan Kedisiplinan
Begitu peluit pertama berbunyi, setiap peserta diajak untuk keluar dari zona nyaman. Tanpa bantuan orang tua, para siswa MI dan santri MTs belajar mendirikan tenda, mengelola logistik, hingga menjaga kerapihan diri. Di sini, kemandirian bukan lagi sekadar teori, melainkan praktik nyata saat mereka harus memastikan kebutuhan kelompoknya terpenuhi dengan tangan sendiri.
Kedisiplinan pun menjadi urat nadi kegiatan. Setiap perpindahan jadwal—mulai dari apel pagi hingga api unggun—dilakukan dengan presisi waktu yang ketat, mengajarkan mereka bahwa menghargai waktu adalah bentuk tertinggi dari menghargai diri sendiri.
2. Tanggung Jawab dalam Jiwa Pramuka
Melalui berbagai simulasi ketangkasan dan outbound, setiap anggota regu belajar tentang tanggung jawab. Seorang pemimpin regu belajar memikul beban kelompoknya, sementara anggota belajar menjalankan tugasnya demi keberhasilan bersama.
“Pramuka Taawanul Muslimin tidak hanya pandai tali-temali, tapi juga teguh memegang amanah.”
3. Mengamalkan Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja)
Inilah yang menjadi pembeda utama. Di sela-sela kegiatan kepanduan, nafas Ahlussunnah Wal Jamaah tetap berhembus kencang. Gemuruh suara istighosah, pembacaan tahlil yang khusyuk di malam hari, serta shalat berjamaah yang diikuti dengan wirid khas warga Nahdliyin, menjadi identitas yang tak terpisahkan.
Kegiatan ini secara eksplisit mengajarkan nilai-nilai:
Tawasuth (Moderat): Mengambil jalan tengah dalam setiap tindakan.
Tawazun (Seimbang): Seimbang antara urusan duniawi (pramuka) dan ukhrawi (ibadah).
Tasamuh (Toleran): Menghargai perbedaan pendapat di dalam regu.
Penutup: Kado untuk Satu Abad Lebih NU
Seiring dengan api unggun yang mulai meredup dan fajar yang menyingsing di ufuk timur, para peserta PERSAMI MI & MTs Taawanul Muslimin membawa pulang lebih dari sekadar tanda kecakapan khusus. Mereka membawa pulang semangat juang para ulama, ketangkasan seorang pandu, dan keteguhan hati seorang santri.
Melalui PERSAMI ini, kita telah menanam benih. Benih yang akan tumbuh menjadi pohon kokoh, yang akarnya menghujam ke bumi dengan nilai Aswaja, dan rantingnya menjulang ke langit dengan kemandirian dan kedisiplinan.
Selamat Hari Lahir Nahdlatul Ulama! Salam Pramuka! Salam Satu Jiwa!